Friday, January 13, 2012

beloved depart.dalam negeriku sayang


Untuk teman seperjuanganku yang tak kenal lelah.
Sungguh, ketika ku tulis untaian kata-kata ini, segenap asaku melambung pada kalian.
Kebersamaan dalam satu tahun ini akhirnya begitu singkat, dua tahun malah untuk teman2 sesama 2009.
Ku coba menguraikan satu-persatu dan membuat memori indah dengan kalian.
Dari awal, tidak begitu sulit untuk memilih orang-orang yang akan menempati tahta departemen dalam negeri ini. Orang-orang yang kritis, mau cape, mudah untuk sosialisasi dengan elemen kampus dan muka tebal J.  Kriteria ini diah tanyakan kepada mantan menteri dagri tahun lalu dan dua tahun lalu. So, mantaplah hati ini untuk memilih kalian, sobat. Sangat ingat ketika nama-nama kalian diah pertahankan untuk menempati posisi ini, tidak dipindah ke departemen lain. Harapannya, biar dagri ini lebih jalan dan lebih fleksibel dalam bekerja daripada tahun lalu. See?

Proker demi proker telah terlewati. Masih ingat saat diah dan temen-temen 2009 lain menarik-narik 2010 untuk mengikuti LKMMTD. Huffh, berat, sungguh, menjengkelkan. Speechlees untuk mengungkapkan yang satu ini. Hanya kata maaf yang keluar saat tragedi surat peringatan meluncur ke tangan anak dagri. Lanjut ke sarasehan, ospek, bekerja untuk SIPO, dan berujung di pemira.

Adik2ku sayang, masing-masing orang punya karakter yang berbeda-beda. Begitupun diah. Mohon maaf jika banyak kekhilafan yang terjadi. Belum bisa mengayomi sepenuhnya, belum bisa jadi pendengar yang baik, belum bisa jadi sahabat dan jadi kakak yang baik. Bisanya Cuma nyuruuh-nyuruh, marah-marah, otoriter, dan ga mau dengerin kalian. Diah sadari semua itu. Ketika ospek terutama. Diah merasa tidak berharga disana. Kalian jalan dengan sendirinya, masukkan dari SC tidak didengarkan, dan sampai terancam dapet surat peringatan dari dekanat mengenai ospek ini. But, Its just for the past, right? Semakin kesini semakin sadar, kalian memang butuh pendewasaan, kalian butuh dilepas biar ngeliat sulitnya medan disana, kalian butuh untuk melihat asap dari api yang dinyalakan, kalian butuh untuk berpikir keras berpikir jauh untuk melihat kasus, bahkan kalian butuh mengenal teman satu sama lain, tidak hanya di dalam genk kalian aja. Tapi, semua itu butuh proses. Ga mungkin kan burung dara yang baru menetas langsung dibiarkan terbang tanpa pengawalan? Nanti kalo jatuh gimana? Kalo ketemu elang gimana? Siapa yang bisa nolongin? Siapa yang bisa ngasih tau kalo di depan sana banyak kumpulan elang? Udah dikasih tau kalo banyak bakalan banyak elang, tapi masih mau terbang juga? Tapiii, maaf sekali kalo peringatan dan kata-kata selama kita bersama lebih banyak yang tidak enaknya ketimbang enaknya. Jujur saja, diah tidak bisa seperti yang lain kalo ada suatu hal diem dulu baru beraksi. Diemnya mikir sih, hehe. Tapi yaa itulah, suka geregetan kalo lamaaa. Kalo ada yang ga sreg, ya langsung diah nyatakan. Heemmm, kelewat jujur dan terasa menyakitkan, kan? Mohon maaf sekali buat yang satu ini. Untungnya, ada temen-temen 2009 yang selalu always ga pernah never nasehatin diah J feel like family, here. Kalo udah bentrok pemikiran sama kalian, awalnya diah keukeuh, tapi kalo kalian bisa memberikan argumen yang jelas, yaa let it flow aja J , masing-masing kan udah punya konsekuensinya, jadi diah pikir kita memang sudah punya konsekuensi masing-masing dan kita harus belajar dari sudut pandang yang berbeda untuk hal yang ini J. Diah harap, yang diambil itu pembelajarannya, bukan sifat ngejengkelin kaya gini yang berujung ngedumel dibelakang. Waahh waahhh. Penyakit hati mulai menjangkiti kalo kaya gini mah J . rasa ketidaksukaan terhadap orang lain itu jelas ada, tapi hidup ini juga pilihan. Apakah hati akan diambilalih dikontrol sama emosi atau hati yang akan mengontrol emosi?
Well, lebih parah lagi, saat kalian lagi sibuk-sibuknya, tapi diah nyuruh mengerjakan pekerjaan dagri, kalian lagi pusing sama tugas, malah diah tambahin buat mikir dagri. Eng ing eng. Mohon maaf lagi buat yang satu ini. Malah saking bingungnya diah mau ngomong apa, malah keluar kata-kata “belajar mandiri.” Lupa redaksional kaya gimana, pokoke intinya 2010 kudu belajar mikir, ga Cuma 2009 yang kerja gitu, ga Cuma nungguin perintah dari 2009. Trus ada yang langsung update status “jangan marah2 ya mae”. Hehe, maaf untuk yang satu ini. Diah bingung mencari kata-kata yang tepat untuk membuat kalian mengerti kalo kalian juga kudu mengeksplor diri, ga hanya hidup dibawah perintah. Bingung ya? kalo mau mengeksplor diri tapi malah terkesan dikekang, kalo ga mengeksplor disuruh suruh eksplor? Sama. Diah juga bingung J. Pembelajaran ga kenal batas sebenarnya, hmmm mungkin cara 2009 untuk 2010 itu metodenya kurang tepat kali ya? Anggap saja itu kekurangan kami.
Adik2ku sayang, waktu setahun ini ga cukup untuk mengenal kalian. Mungkin kalian sudah tau karakter 2009 per orangnya, tapi 2009 mengenal 2010 itu susah bangeeett. Kalo boleh komen, 2010 itu tertutup, sukanya curigaan, underestimate, ekspresi tersembunyi (ekspresi ga jujur), sukanya hepi sama geng gong doang, yaa kaya dijidatnya ada tulisan “lo-ga-usah-ganggu-idup-gw-yang-udah-hepi-ini-dengan-tugas-organisasi-bejibun”. Tapi, kalo masalah teknis, oke banget, bisa diandelin. Tapinya lagi nih, organisasi kan ga mungkin jalan cuma teknisnya aja. Butuh pemikiran matang sebelumnya. Alhamdulillahnya, Allah ngasih kita berpasang-pasangan, nah, kaya 2009 sama 2010. Kita saling melengkapi satu sama lain. 2009 mikir, 2010 yang ngejalanin. Indah, kan? Trus kalo 2009 lengser gimana? Siapa yang mau mikir? Hope, semuanya bisa bahu membahu untuk memikirkan lebih lanjut hal ini. Daaann, yuk marii berbenah.
Sista and bradaa. Mohon maaf dalam setahun ini belum bisa memberikan pelajaran organisasi kepada 2010. Diah sadari betul kalo 2010 belum cukup bekal menghadapi kepengurusan berikutnya yang sepenuhnya dipegang 2010. Ini murni kesalahan kami dalam mendidik dan mencetak kalian. Rasa was-was saat LPJ masih bisa dirasakan. Pikiran-pikiran yang mengganggu kalo 2010 nanti yang memimpin akan seperti apa jadinya. Terlihat, banyak 2010 yang tidak bersedia berjuang dan belajar di BEM lagi. Maaf, ini hanya pikiran-pikiran yang tidak bertanggung jawab saja. Mungkin ini adalah efek karena gaya kepemimpinan 2009 yang ga enak, jadi teman-teman 2010 menganggap BEM ga asik dan merepotkan plus mengganggu akademik sangat. Well, sejujurnya waktu tahun pertama diah di BEM, diah juga merasakan itu, waktu dipimpin sama 2008. Tapi, kan 2009 selanjutnya yang mimpin, jadi ga ada salahnya kan 2009 memperbaiki situasi ini. Endingnya, kita berhasil mengubah situasi ini diantara 2009, sayangnya ga berlaku buat 2010. So sad... lagi-lagi harus terulang situasi ini.
Teringat kondisi musang yang sangat begitu memprihatinkan. Tapi yaaahh, mau marah sama siapa? Mau kesel sama siapa? Toh ini hasil didikan kita. Toh ini hasilnya saat kita sama-sama belajar di BEM selama setahun. Toh ini output kekeluargaan yang tercipta setelah susah-susah berusaha mendekatkan diri tapi ditolak #lebai. Hanya rasa syukur yang dipanjatkan dan pengharapan kepada generasi muda yang nantinya masih semangat melanjutkan perjuangan kami. Two thumbs up buat kalian J.
Adikku yang saat ini bimbang. Diah tau betapa sulit kalian mengajak teman-teman sesama 2010 untuk bergabung kembali melanjutkan perjuangan ini. Korban hati, perasaan, otak, mulut, semuanya bercampur. Ada rasa kesal yang menyelinap. Rasa kecewa. Sama kaya diah. Tapi, ingat. Ketika kalian sudah maksimal dalam berusaha, hanya Allah yang dapat membalikkan hati manusia. Kalian harus memikirkan 2011 nanti mau dibawa kemana? Blow your mind. Cukup rasa itu sampai di pintu hati, jangan sampai masuk ke hati karena akan mengakibatkan penyakit ukhuwah (kekeluargaan). Sejatinya, perjuangan itu adalah proses bagaimana kita meraih visi misi organisasi. Dalam proses itu banyak capaian yang harus diraih, salah satunya ya kekeluargaan itu. So, take care buat dagri yang masih mau melanjutkan belajar lebih disini. Akan banyak kalian temukan perubahan diantara memimpin dan dipimpin dan kalian ga akan menyesal, trust it J.
Buat teman sejawat 2009, mohon maaf kalo diah selama ini ribet banget, sukanya membagi tugas dengan penuh tekanan jiwa, sukanya melimpahkan kerjaan kalo udah ga sanggup kepegang, sukanya yaaa suka-suka aja. Buat septa, diah jujur bingung antara porsi kamu di dagri dengan porsi kamu sebagai ketua beskem yang merangkap dagri yang kudu menangani ukm lain juga. Jadi yaaahh, karena diah ingin membangun beskem, jadi mohon maaf kalo septa selama ini beranggapan diah ga terlalu ngasih tugas berat ke septa coz i know kamu udah cukup pusing dengan beskem. Finally, ditangan kamu beskem selangkah lebih maju J. Pengorbanan merelakan satu anak dagri, ga sia-sia deh. Buat dani, hoho. Maaf kalo rempong juga nih. Saat septa ribet sama beskem, diah berpindah ke kamuu dan menyusahkan. Maaf udah ngatur-ngatur yang geje. Maaf belum bisa jadi sahabat dan teman yang baik.
All, sebenernya diah mau ngungkapin ini dari pertengahan kita pas menjabat bersama. Tapi yaa itu, terpentok kesibukan masing-masing dan secara pribadi, diah takut mengganggu profesionalitas kita karena ini kan heart to heart yaaa. Masalah perasaan, yang ada nantinya pada ngejauh kalo dikritik--walau sebenernya diah lebih suka dikritik dan terbuka--. Ya memang ga setiap orang kaya gitu sih, tapi preventif aja J. Dulu pas ditanya diah kurangnya apa dan harus bagaimana sebagai menteri, eh pada ga ngasih masukan. Yaudah deh, berjalan apa adanya aja. Ujung-ujungnya pada ngeluh kan diah yang begini begitu? Alhasil, pada setengah hati ngejalaninnya. Hem, pembelajaran lagi nih buat ke depannya J.
Kalo orang putus, bikin sakit hati. Tapi sakit hati itu kan diawali dengan kesenangan yaa. Ujung2nya juga bakal jadi kenangan terindah. Sama kaya kita sekarang. Kalo kemaren setaun ini banyak ngeluh dan ngedumel, sekarang saatnya tertawa untuk semua yang kita lakukan.
Miss u all J J J
8 januari 2012 @kostan oke banget

dakwah dalam organisasi



kamu harus berterima kasih kepada siapa saja yang memberimu masukan, kepada siapa saja yang memarahimu, mencelamu, memaki, dan mencaci bahkan yang berusaha untuk memecah otakmu.
lihatlah bagaimana bersusah payahnya mereka mengatakan ini semua, hanya untuk perubahan dirimu.
tapi ingatlah, mengingatkan dengan perkataan yang baik.
ukhti, teruslah bersabar dengan semua keadaan.
mintalah pundakNya yang lebih besar untuk membantu menopang bahumu, memikul semua cobaan dan amanah hidup.
bersyukurlah dengan semua yang kamu miliki.
teman, sahabat. semuanya terlalu hina untuk ditinggalkan. dekati mereka meski mereka menjauh. jangan pernah lelah untuk mengatakan kata maaf. kerena itulah senjatamu dan berdo'alah untuk kekhilafan dirimu dan mereka. semoga Allah senantiasa mengikatkan ukhuwah ini, mengetuk hati yang keras dan memecahnya.
terus belajar memahami, bersabar, berterimakasih, tegar, dan meminta maaf.
semua ini takkan merendahkan derajatmu.
ingatlah Allah, istighfar..


refleksi renungan kamis, 3 Maret 2011

saat ketulusan dipertanyakan

baru kali ini aku menemukan orang yang mengatakan "aku tulus bilang makasih."
so? bagaimana dengan hidupnya selama ini? apakah dipenuhi dengan kepura-puraan saja?
masalah ketulusan itu dari hati dan masalah hati itu hanya dia dan Allah yang tahu. selebihnya? aku tidak ingin turut campur dalam hal ini.
bukankah dengan orang lain tulus atau tidak, tidak akan mengubah pandangan kita? kita yang tidak tahu hanya menganggap semua itu ketulusan kan?

Wednesday, January 11, 2012

Cita dalam Angan

Cita dalam Angan

Putih ini berubah menjadi seringai-seringai yang berdawai
Dalam...kian dalam...
Menyentuh air pusatnya sanubari
Desisku pada kehidupan
Jeritku pada harapan
Tetesan peluhku untuk impian

Entahlah..
Mengapa sulit kaki ini tuk melangkah
Menjajari sucinya pasir-pasir lautan
Nampaknya sebakul keringat telah ku korbankan
Namun tak cukup...
Tak cukup untuk wajah..
Wajah penuh harap..
Wajah penuh lara...
Penuh dusta...
Dengan  banyak cita...

andy Lau- berbagai editan masa lalu


Ya Allah..
Entah mengapa akhir-akhir  ini aku begitu lincah
mengucapkan hal tentang akidah..
Mereka bertanya padaku tentang semua yang membingungkan....
Membingngkuan mereka..membingungkan aku,,
Ya Allah ,entah berapa kali aku mengucapkn panggilanMu..
Entah berapa kali aku menjawab banyak pertanaayan dengan dalihMu..
Entah,,
Entah ini akan menjadikan aku terjun ke jurangku sendiri..
Entah ini yang akan membuatku masuk terperosok di dalam kata2 ku..
Entah ini yang nantinya manjadi alasan aku munafik di hadapan mereka..
Bahkan di hadapan Engkau, ya Allah..

Bersih..
Mungkin itulah yang mereka nilai..
Putih ..
Mungkin inilah yang mereka mengerti..
Tapi ini yang kan membuatku terhina,,
Terhina di dalam hatiku sendiri,,
Menerawang ke alam yang tak ku ketahui..
Tak ku mengerti..
Tak terhayati..

Ya Allah
Sungguh kau yang Maha Tahu apa yang ku sembunyikan
Maha Tahu apa yang ter simpan di diri ini..
Tak inginku menjadi lilin..
Lilin yang indah tatkala menerangi sekitar..
Namun,,lilin yang membakar dirinya sendiri..

January 8th 2010

aku

PELAJARAN HARI INI

aku tidak akan pernah meminta suatu amanah apapun.
karena dimanapun posisinya, aku akan tetap berkarya, terlepas dari orang lain suka atau tidak.
karena indikator kecintaan aku adalah kecintaan Allah, bukan kecintaan manusia kepadaku.

REFLEKSI DAKWAH KAMPUS

REFLEKSI DAKWAH KAMPUS
DALAM MENGHADAPI TANTANGAN MASA DEPAN

Memang seperti itulah dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu..
Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai..
Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu.
Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret.. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari..

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yang diturunkan Allah.

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yng bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak.
Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.
Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang
sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.
Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.
Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.
Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.

Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..
Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya
besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang…“

Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta… Mengajak kita untuk terus berlari…

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
(ust. Rahmat Abdullah)

Sekiranya kalimat  ini telah banyak diketahui oleh saudara/i ku yang berkecimpung di lembaga dakwah kampus. Dan ini menjadi referensi bacaan ketika kelelahan, kebosanan, keletihan, kefuturan, dan kelesuan menghampiri setiap pribadi yang sedang gagahnya berjuang. Bacaan yang menggugah semangat kita untuk terus berperang pada zaman globalisasi yang semua dipertaruhkan untuk keberlangsungan hidup. Zaman yang menganggap “kebebasan” itu segala-galanya, yang mengatasnamakan emansipasi padahal intervensi pemikiran. Ghawzul fikri, inilah jalan mereka untuk membuat sebuah robot peradaban baru. Mengontrol para pemuda Islam dengan tipu muslihat, yaitu kesenangan dan hura-hura, mempertaruhkan harta, tahta, jiwa dengan nama “freedom” . Pembodohan umat dari asumsi-asumsi, sekarang berkembang dan meluas ke media massa yang bahkan kita sulit untuk memfilternya. Siapakah yang patut disalahkan?siapakah yang bertanggungjawab atas semua kondisi umat ini?
Belum lepas masalah ghawzul fikri, mulailah marak dengan pembobrokan moral umat. Publik figur yang tidak tepat dan didukung oleh sarana yang tepat. Semua terlihat sempurna untuk menghancurkan bangsa ini. Lantas, apa yang harus kita perbuat ikhwah?
Tentu kita tidak tinggal diam dalam menyikapi masalah ini. Banyaknya aksi perprotesan dijalan membela jalan suci ini. Ghawzul fikri, pembobrokan dan pembodohan moral umat, sudah menjadi makanan sehari-hari kita dan selalu menjadi topik yang hangat untuk diperbincangkan. Ditambah lagi dengan kamuflase-kamuflase mengatasnamakan Islam!!
Sepertinya jalan dakwah ini begitu sulit. Begitu banyak pembenahan yang harus dilakukan dari semua elemen kehidupan ini. Begitu banyak yang harus diluruskan untuk kemudian kita menentukan dimana sarana yang tepat untuk melangkah.
Lihatlah bagaimana keberlangsungan lembaga dakwah di setiap instansinya. Sudahkan mereka memenuhi kewajiban sebagai “lembaga dakwah”? lihatlah lebih dalam ikhwah.. apa yang terjadi pada kader-kader dakwah? Bagaimana ruhyah mereka? Bagaimana jasmani mereka? Sudahkah semuanya tercukupi secara proporsional? Atau sanggupkah sekiranya mereka menjawab permasalahan-permasalahan di atas tadi?
Pembenahan di setiap sisi, ikhwah. Itulah jawabannya. Benahi individu kader, benahi diri kita. Barulah kemudian kita benahi organisasi kita. Menciptakan bagaimana ranah siasi, da’wiy, dan ‘ilmi selalu selaras dalam setiap langkah kita. Perlunya pengaturan strategi untuk itu semua. Bukankah kemaksiatan yang rapi akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir?
Ikhwahfillah, janganlah menganggap jalan dakwah ini berat. Beruntunglah orang-orang yang mendapatkan kesempatan untuk senantiasa memperbaiki diri dengan berdakwah. Ingatlah perkataan Sayyid Qutb “barangsiapa menganggap ringan kewajiban (dakwah) ini, padahal ia merupakan kewajiban yang dapat mematahkan tulang punggung dan membuat orang gemetar, maka ia tidak akan melaksanakannya secara kontinu kecuali atas pertolongan Allah. Ia tidak akan bisa memikul dakwah ini kecuali atas bantuan Allah SWT. Dan tidak akan bia teguh diatasnya kecuali dengan keikhlasan kepadaNya. Orang yang berada di jalan ini, siangnya berpuasa, malamnya menunaikan shalat, ucapannya penuh dzikir. Hidup dan matinya hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam yang tiada sekutu bagiNya”
Jika dipikirkan, sudah begitu banyak kader dan pengurus lembaga dakwah namun mengapa mereka masih tidak cukup untuk menjawab tantangan masa depan. Karena mereka berdakwah tidak berasal dari hati nurani, tidak ikhlas untuk menjalankannya, atau mungkin hanya segelintir orang yang memang benar-benar hidup dan matinya berjuang di jalan ini. Wallahu’alam.
Ikhwah, mari kita pikirkan kembali bahwa lembaga dakwah ini merupakan posisi yang sudah strategis untuk menjawab semua permasalahan umat. Jangan biarkan posisi kita ditukar oleh Allah dengan orang lain. Jangan relakan diri kita sebagai daun-daun yang berguguran yang nantinya hanya menjadi sampah sejarah. Kesempatan ini tidak akan terulang untuk kesekian kalinya, jangan sampai kita melewatkan kesempatan, dimana kita menjadi sebuah jalan bagi orang lain untuk menjadi muslim yang utuh sehingga amal kebaikan itu senantiasa mengalir, menghiasi diri kita tanpa mengenal batas usia.

"Betapa inginnya kami agar umat ini mengetahui bahwa diri mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri. Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai penebus kehormatan mereka, jika memang tebusan itu diperlukan. Atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan dan terwujudnya cita-cita mereka, jika memang itu harga yang harus dibayar. Tiada sesuatu yang membuat kami seperti ini selain rasa cinta yang mengharu biru di hati kami, menguasai perasaan kami, memeras habis air mata kami dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami. Betapa berat rasa di hati kami menyaksikan bencana yang mencabik-cabik ummat ini. Sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaan dan pasrah pada keputusasaan" (hasan al banna)

Tetaplah optimis wahai akhi wa ukhti berjalan dan investasi di jalan dakwah ini. Wahai lembaga dakwah, peliharalah hak-hak Allah, niscaya Ia akan memelihara engkau. Peliharalah hak-hak Allah niscaya engkau akan mendapatiNya mendukung kalian.

Akhirulkalam, “perumpamaan orang yang tegak di atas ajaran Allah dan yang meninggalkannya seperti orang-orang yang berdesakan di atas kapal. Sebagian berada di atas dan sebagian yang lain berada di bawah. Orang-orang yang ada dibawah apabila mengambil air harus melewati orang-orang yang berada di atasnya. Maka mereka berkata,’Bagaimana jika kita melubangi saja bagian yang di bawah kita ini sehingga tidak usah mengganggu yang di atas?’ jika orang-orang di atas membiarkan apa yang mereka inginkan niscaya tenggelamlah semuanya. Tetapi jika mencegahnya, selamatlah mereka dan selamatlah semuanya” (HR Bukhari).