Wednesday, May 2, 2012

wahai ukhti, aku CEMBURU!!

Bismillah..
Akhwatifillah, coba tanyakan pada hati kalian. Apa selama ini kami tidak terlalu peduli dengan keadaan dan kondisimu? Apa kami tidak cukup memberi semangat dan dorongan demi kemajuan dan cita-citamu? Apa kami tidak menyayangimu, memberi nasihat, dan mengingatkanmu dikala dirimu khilaf? Apa kami tidak memberi hadiah berupa apapun itu disaat penghargaan datang kepadamu? Atau lupa untuk memberimu “selamat” atas kebaikan yang menimpamu? Apa kami tidak cukup berada disampingmu setiap saat kamu membutuhkan bahu untuk bersandar dari lelahkan aktifitasmu, dari kecewanya kamu pada dunia yang fana ini? Apa kami tidak cukup cepat untuk memberikan tangan kami disaat kamu terjatuh dan berusaha bangkit kembali? Apa kami tidak cukup bersedia meminjamkan kaki-kaki kami untuk menemanimu kemanapun kau inginkan atau memberikan beberapa liter bensin untuk kau pakai dengan sesuka hatimu? Apa kami tidak cukup menenangkan ketika kau sedang bersedih dan membutuhkan seseorang sebagai pelampiasan kesedihanmu? Apa semua itu belum cukup ya, ukhti?
Hingga kau hiraukan kami.
Kau tinggalkan kami dengan seseorang yang baru dihidupmu. Bukan orangtuamu, bukan saudara kandungmu, bukan teman-teman yang lain mu, bukan sanak saudaramu. Tapi kau perlahan menghilang dari pandangan kami karena dia. Dia yang bukan muhrim. Dia yang belum halal untukmu.
Ukhti, betapa dia menyilaukan dimatamu. Mengalahkan lembutnya sinar kami, pancaran kami.
Kami tau, sebuah rasa itu fitrahnya manusia, anugerah dari Allah. tapi ukhtiii, jangan kamu jadikan fitrah itu menjadi fitnah. Sungguh, tlah kulihat perbedaan pada dirimu.
Kami tunggu di syuro syuro khidmat kita, disana tak lagi kulihat semangat yang membara untuk berpikir dan memajukan jalan kita dengan cepat. Kami menantimu di tiap lingkaran-lingkaran kecil kita, namun kehadiranmu kini kunjung berkurang. Yang terkecil, kami mengharapkanmu untuk sekedar saling bertegur sapa kala bertemu. Tapi aahh, rasanya jarang sekali itu terjadi, kalau bertemu pun hanya untuk berbasa basi tanpa rasa. Ada apa diantara kita wahai ukhti? Sapaan mu tak lagi menghangatkan, rengkuhanmu tak lagi menenangkan, bicaramu tak lagi menasihatkan.
Bukan. Bukan. Bukan.
Kau pergi bukan karena dia kan, ukhti? Kau pergi bukan karena kami kalah saing dengan dia kan, ukhti? Kau mundur bukan karena menyadari bahwa kita ini golongan orang aneh yang insyaAllah akan tetap istiqomah dengan keanehan? Kauu.. ahh, rasanya tak sanggup lagi menggambarkan semua ini.
Ukhti..
Ceritakan pada kami bagaimana dia bisa menarik perhatianmu, memberimu kasih sayang, memberimu kedamaian, memberimu kenyamanan, memberimu yang mungkin kamu anggap segalanya. Karena, kami sangat ingin menukar posisi dia ya, ukhti. Sangat.. ingin..menukar..posisi..dia..dengan kami..terutama dihatimu. Hati yang kamu sisihkan untuk saudara seimanmu.
Kamu pernah merasa cemburu?
Sesungguhnya saat ini kami sedang cemburu.
Bagaimana tidak? Kami sangat ingin berceloteh riang tentang semua hal, tapi kamu memilih dia sebagai diarymu, padahal kami menyiapkan waktu 24 jam untuk menerima sms atau telepon darimu. Berbeda dengan dia yang—seharusnya—hanya sampai jam 9 malam dan dimulai kembali setelah subuh.
Kami sangat ingin berdua denganmu ketika makan, tapi kamu memilih dia (lagi) sebagai teman makanmu, padahal kami mengirim sms, mengajak, dan menunggumu untuk makan bersama untuk tau apa makanan kesukaanmu, minuman pelepas dahaga favoritmu, cemilan yang ingin kau makan, bahkan berapa besar budgetmu untuk makan kali ini. Berbeda dengan dia yang mungkin saat kamu makan bersamanya kamu relakan mengeluarkan berapapun budget untuk menutupi kondisimu agar tidak memberatkan dia.
Kami sangat ingin memboncengimu, mengantarmu kemanapun yang kamu, tapi kamu lagi lagi memilih diboncengi dia. Padahal, kami telah berusaha siap siaga, membantumu, menemani sekalipun ke taman kota ketika kamu sedang butuh hiburan, refreshing sejenak dari penatnya aktivitasmu, kami bersedia untuk dipegang olehmu erat dan mungkin menangis di atas kendaraan kami saat kita meluncur bersama.
Kami sangat ingin jalan berdua denganmu sambil memegang tanganmu, mengisahkan, mengambil hikmah dari setiap orang yang lewat dihadapan kita, di mall, taman, kampus atau berceloteh tentang ceritamu di kampus hari ini yang terlambat datang, presentasi kuliah, konflik teman sekelompok dalam tugas, dosen yang membimbingmu, semuanya ukhti. Semuanya. Berbeda dengan dia yang tak selulasa kamu bercerita kepada kami, karena kamu masih menjaga image kamu dari akhwat yang cengeng, pemarah, sensitif, boros,  lemah, suka nyuruh tatkala kamu bercerita dihadapannya.
Saat kamu begitu fokus memegang hape dan tidak bisa lepas dari hape, kami sangat ingin kamu berharap bahwa si pengirim sms atau si penelpon adalah kami. Kami yang mengirimu kata-kata penyemangat, menanyakan kabarmu hari ini, kabar keluargamu dan adik2mu, kabar kesulitan kuliahmu, keadaan jasmanimu, bahkan di sepertiga malam terakhir membangunkanmu untuk shalat tahajjud. Bukan dia, bukan dia yang mengirimu kata-kata manis penuh buaian, gombalan duniawi yang entah bisa atau tidak bisa dipertanggungjawabkan, dan kata-kata protektifnya kepadamu.
Ukhti, kini yang kurasa kehilangan mu sangat. Cemburu pada dia yang merebutmu dariku.
Syuro itu, aku bersedih. Lingkaran itu, aku berduka. Sapaan itu, ahh entahlah. Majelis ilmu, kini tak lagi kau rindukan.
Teguran halus untuk mengembalikanmu, ukhti. Terasa hambar.
Paksaan lembut untuk menarikmu, ukhti. Terasa bubar.
Mungkin karena rabithah kami yang kurang, shalat-shalat malam kami yang tidak khusyu, hati-hati kami yang gersang dan terbentengi duniawi, ruhiyah. Ya, ruhiyah. Rihuyah kami yaaangg, lagi futur. Nurun. Merosot. Amal yaumi tak terpelihara. Silaturahim tak terjaga. Muamalah tak terperhatikan. Hubungan lawan jenis yang luar biasa.
Hatimu. Hatiku. Hati kita. Hati kami. Apa kabarnya?
Aku begitu cemburu. Cemburu. Cemburu.
Sapaan, teguran, di dominasi sang ikhwan. Mencari cari keberadaanmu, ukhti. Mencarimu untuk sebuah nasihat untukku. Tangisan bersama kurindukan.
Aku. Kami. Hanya makhlukNya. Tapi mengapa begitu cemburu?
Pernahkan kamu berpikir bagaimana cemburuNya kepadamu? Ketika ketuhanan tak lagi padaNya, tapi padanya. Yang ku takutkan, alasanmu hengkang dari jangkauan kami itu, karenanya, bukan karenaNya.

Wallahu’alam bisshowab.
@kostanku. 17.33 . 2 Mei 2012
#kangen saat saat indah kita berjuang dengan amat sangat semangat sekali. Semoga Allah memaafkan kekhilafan kita, menjaga hati hati kita, adik2 kita.
Merindukan syuro yang dirindukan,
Lingkaran yang tidak lagi sebuah paksaan,
Majelis ilmu yang bukan merupakan waktu dan tenaga sisa,
Semangat karena Allah ^.^ . .#
Alhamdulillah,,                                                                                                              

No comments:

Post a Comment