Bismillah..
Akhwatifillah, coba tanyakan
pada hati kalian. Apa selama ini kami tidak terlalu peduli dengan keadaan dan
kondisimu? Apa kami tidak cukup memberi semangat dan dorongan demi kemajuan dan
cita-citamu? Apa kami tidak menyayangimu, memberi nasihat, dan mengingatkanmu
dikala dirimu khilaf? Apa kami tidak memberi hadiah berupa apapun itu disaat
penghargaan datang kepadamu? Atau lupa untuk memberimu “selamat” atas kebaikan
yang menimpamu? Apa kami tidak cukup berada disampingmu setiap saat kamu
membutuhkan bahu untuk bersandar dari lelahkan aktifitasmu, dari kecewanya kamu
pada dunia yang fana ini? Apa kami tidak cukup cepat untuk memberikan tangan
kami disaat kamu terjatuh dan berusaha bangkit kembali? Apa kami tidak cukup
bersedia meminjamkan kaki-kaki kami untuk menemanimu kemanapun kau inginkan
atau memberikan beberapa liter bensin untuk kau pakai dengan sesuka hatimu? Apa
kami tidak cukup menenangkan ketika kau sedang bersedih dan membutuhkan
seseorang sebagai pelampiasan kesedihanmu? Apa semua itu belum cukup ya, ukhti?
Hingga kau hiraukan kami.
Kau tinggalkan kami dengan
seseorang yang baru dihidupmu. Bukan orangtuamu, bukan saudara kandungmu, bukan
teman-teman yang lain mu, bukan sanak saudaramu. Tapi kau perlahan menghilang
dari pandangan kami karena dia. Dia yang bukan muhrim. Dia yang belum halal
untukmu.
Ukhti, betapa dia
menyilaukan dimatamu. Mengalahkan lembutnya sinar kami, pancaran kami.
Kami tau, sebuah rasa itu
fitrahnya manusia, anugerah dari Allah. tapi ukhtiii, jangan kamu jadikan
fitrah itu menjadi fitnah. Sungguh, tlah kulihat perbedaan pada dirimu.
Kami tunggu di syuro syuro khidmat
kita, disana tak lagi kulihat semangat yang membara untuk berpikir dan
memajukan jalan kita dengan cepat. Kami menantimu di tiap lingkaran-lingkaran
kecil kita, namun kehadiranmu kini kunjung berkurang. Yang terkecil, kami
mengharapkanmu untuk sekedar saling bertegur sapa kala bertemu. Tapi aahh,
rasanya jarang sekali itu terjadi, kalau bertemu pun hanya untuk berbasa basi
tanpa rasa. Ada apa diantara kita wahai ukhti? Sapaan mu tak lagi
menghangatkan, rengkuhanmu tak lagi menenangkan, bicaramu tak lagi
menasihatkan.
Bukan. Bukan. Bukan.
Kau pergi bukan karena dia
kan, ukhti? Kau pergi bukan karena kami kalah saing dengan dia kan, ukhti? Kau mundur
bukan karena menyadari bahwa kita ini golongan orang aneh yang insyaAllah akan
tetap istiqomah dengan keanehan? Kauu.. ahh, rasanya tak sanggup lagi
menggambarkan semua ini.
Ukhti..
Ceritakan pada kami
bagaimana dia bisa menarik perhatianmu, memberimu kasih sayang, memberimu
kedamaian, memberimu kenyamanan, memberimu yang mungkin kamu anggap segalanya. Karena,
kami sangat ingin menukar posisi dia ya, ukhti. Sangat..
ingin..menukar..posisi..dia..dengan kami..terutama dihatimu. Hati yang kamu
sisihkan untuk saudara seimanmu.
Kamu pernah merasa cemburu?
Sesungguhnya saat ini kami
sedang cemburu.
Bagaimana tidak? Kami sangat
ingin berceloteh riang tentang semua hal, tapi kamu memilih dia sebagai
diarymu, padahal kami menyiapkan waktu 24 jam untuk menerima sms atau telepon
darimu. Berbeda dengan dia yang—seharusnya—hanya sampai jam 9 malam dan dimulai
kembali setelah subuh.
Kami sangat ingin berdua
denganmu ketika makan, tapi kamu memilih dia (lagi) sebagai teman makanmu,
padahal kami mengirim sms, mengajak, dan menunggumu untuk makan bersama untuk
tau apa makanan kesukaanmu, minuman pelepas dahaga favoritmu, cemilan yang
ingin kau makan, bahkan berapa besar budgetmu untuk makan kali ini. Berbeda dengan
dia yang mungkin saat kamu makan bersamanya kamu relakan mengeluarkan berapapun
budget untuk menutupi kondisimu agar tidak memberatkan dia.
Kami sangat ingin memboncengimu,
mengantarmu kemanapun yang kamu, tapi kamu lagi lagi memilih diboncengi dia. Padahal,
kami telah berusaha siap siaga, membantumu, menemani sekalipun ke taman kota
ketika kamu sedang butuh hiburan, refreshing sejenak dari penatnya aktivitasmu,
kami bersedia untuk dipegang olehmu erat dan mungkin menangis di atas kendaraan
kami saat kita meluncur bersama.
Kami sangat ingin jalan
berdua denganmu sambil memegang tanganmu, mengisahkan, mengambil hikmah dari
setiap orang yang lewat dihadapan kita, di mall, taman, kampus atau berceloteh
tentang ceritamu di kampus hari ini yang terlambat datang, presentasi kuliah,
konflik teman sekelompok dalam tugas, dosen yang membimbingmu, semuanya ukhti. Semuanya.
Berbeda dengan dia yang tak selulasa kamu bercerita kepada kami, karena kamu
masih menjaga image kamu dari akhwat yang cengeng, pemarah, sensitif,
boros, lemah, suka nyuruh tatkala kamu
bercerita dihadapannya.
Saat kamu begitu fokus
memegang hape dan tidak bisa lepas dari hape, kami sangat ingin kamu berharap
bahwa si pengirim sms atau si penelpon adalah kami. Kami yang mengirimu
kata-kata penyemangat, menanyakan kabarmu hari ini, kabar keluargamu dan
adik2mu, kabar kesulitan kuliahmu, keadaan jasmanimu, bahkan di sepertiga malam
terakhir membangunkanmu untuk shalat tahajjud. Bukan dia, bukan dia yang
mengirimu kata-kata manis penuh buaian, gombalan duniawi yang entah bisa atau
tidak bisa dipertanggungjawabkan, dan kata-kata protektifnya kepadamu.
Ukhti, kini yang kurasa
kehilangan mu sangat. Cemburu pada dia yang merebutmu dariku.
Syuro itu, aku bersedih. Lingkaran
itu, aku berduka. Sapaan itu, ahh entahlah. Majelis ilmu, kini tak lagi kau
rindukan.
Teguran halus untuk
mengembalikanmu, ukhti. Terasa hambar.
Paksaan lembut untuk menarikmu,
ukhti. Terasa bubar.
Mungkin karena rabithah kami
yang kurang, shalat-shalat malam kami yang tidak khusyu, hati-hati kami yang
gersang dan terbentengi duniawi, ruhiyah. Ya, ruhiyah. Rihuyah kami yaaangg,
lagi futur. Nurun. Merosot. Amal yaumi tak terpelihara. Silaturahim tak
terjaga. Muamalah tak terperhatikan. Hubungan lawan jenis yang luar biasa.
Hatimu. Hatiku. Hati kita. Hati
kami. Apa kabarnya?
Aku begitu cemburu. Cemburu.
Cemburu.
Sapaan, teguran, di dominasi
sang ikhwan. Mencari cari keberadaanmu, ukhti. Mencarimu untuk sebuah nasihat
untukku. Tangisan bersama kurindukan.
Aku. Kami. Hanya makhlukNya.
Tapi mengapa begitu cemburu?
Pernahkan kamu berpikir
bagaimana cemburuNya kepadamu? Ketika ketuhanan tak lagi padaNya, tapi padanya.
Yang ku takutkan, alasanmu hengkang dari jangkauan kami itu, karenanya, bukan
karenaNya.
Wallahu’alam bisshowab.
@kostanku. 17.33 . 2 Mei
2012
#kangen saat saat indah kita
berjuang dengan amat sangat semangat sekali. Semoga Allah memaafkan kekhilafan
kita, menjaga hati hati kita, adik2 kita.
Merindukan syuro yang
dirindukan,
Lingkaran yang tidak lagi
sebuah paksaan,
Majelis ilmu yang bukan
merupakan waktu dan tenaga sisa,
Semangat karena Allah ^.^ .
.#
Alhamdulillah,,
No comments:
Post a Comment